Pages

Labels

Jumat, 01 Maret 2013

tram

Jakarta
Alat transportasi bernama trem mulai diperkenalkan di Batavia pada 1869. Trem pada masa itu ditarik oleh kuda. Meski “mesin penggeraknya” kuda, tapi jarak tempuhnya lumayan panjang, dari Kwitang ke Pasar Ikan. Lambat laun posisi trem kuda digantikan dengan trem bermesin uap pada 1881. Ketel uap yang ditempatkan dalam kaleng besar menjalankan lokomotif trem.
Karena menggunakan uap maka jarak tempuh trem ini lebih jauh, dari Pasar Ikan ke Gajah Mada hingga Harmoni, berlanjut ke Kramat melalui Pasar Baru dan lapangan Banteng, kemudian ke Meester Cornelis (Jatinegara) melewati Salemba dan Matraman.
Sekitar 20 tahun kemudian atau tahun 1901 trem listrik mulai diperkenalkan. Meski demikian, trem upa tetap beroperasi. Trem uap akhirnya berhenti beroperasi pada 1933 karena semua trem sudah menggunakan listrik.
Trem listrik berakhir pada tahun 1960 di masa Wali Kota Sudiro.Ketika trem hendak digusur, Sudiro memohon pada Presiden Soekarno agar jaringan trem dari Jatinegara – Senen tetap dipertahankan. Tapi Bung Karno, Presiden RI pertama, menolak dan menganggap trem tidak cocok untuk kota semacam Jakarta. Dia lebih setuju dibangun metro atau kereta api bawah tanah.
Surabaya
Pada tahun 1886, Oost Java Stoomtram Maatschappij mendapat ijin untuk membuka jalur Ujung - Kramatgantung - Wonokromo - Krian - Sepanjang, kemudian dilanjutkan ke Mojokerto - Ngoro. Trem uap membawa banyak masalah seperti kemacetan, polusi, dan lain-lain. OJS kemudian mengajukan diri untuk membangun kembali jalur trem listrik di Surabaya. Pada tahun 1910, OJS mendapatkan ijin mengelola trem listrik di kota Surabaya dan sekitarnya.

Jaringan rel listrik ini membuka jalur :
1. Wonokromo - Willemsplein
2. Goebeng Boelevard - Simpangsplein - Palmlaan - Willemsplein
3. Stasiun Goebeng SS - Sawahan
4. Willemsplein - Pelabuhan Baru


Pemerintah Hindia Belanda juga menerapkan segala ketentuan dan kebijakan untuk pelaksanaan trem di kota-kota termasuk Surabaya. Ada berbagai ketentuan yang harus diikuti oleh OJS dalam mengelola trem, seperti : tempat lokomotif, tempat motor penggerak, tugas masinis, bagaimana jika trem akan berhenti, bagaimana jika terjadi krash dengan trem lain, berapa tarif, dan lain-lain. (Staatsblad tahun 1928, No. 20). Di sisi lain ada ketentuan yang berbeda untuk trem yang melintas di pedesaan (Staatsblad tahun 1928 No. 202).

Dalam rangka pembebasan tanah untuk membangun jalur trem yang baru, OJS bekerja sama dengan Department van Gouvernement Bedrijven. Mereka membeli tanah-tanah milik warga yang dilalui oleh proyek pembangunan jalur baru. dan sebagai imbalan, para pemilik tanah tersebut mendapatkan ganti rugi atas tanah yang digunakan untuk proyek trem listrik dengan sejumlah uang.

Untuk menggerakkan trem listrik yang dikelola, OJS bekerja sama dengan Algemeene Nederlands Indisch Electrisch Maatschappij (ANIEM) Surabaya dengan cara menyewa. Setiap bulan, OJS harus membayar dengan sejumlah uang.

Pada tanggal 15 Mei 1923, trem listrik dioperasikan. Sayangnya, pada hari pertama tidak semua jalur dioperasikan secara bersamaan. Ada beberapa jalur yang ditawarkan:
1. Wonokromo - Palmlaan - Willemsplein
2. Goebeng Boelevard - Simpang Willemsplein
3. Tunjungan - Sawahan - Stasiun Goebeng SS
4. Alon-alon Willemsplein - Hereenstraat - Jalan Gresik - Tanjoeng Perak

Pada tanggal 11 Februari 1924, barulah seluruh jalur trem listrik di Surabaya dioperasikan. Penumpang trem listrik pernah mengalami pasang surut. Tetapi pada perkembanganya, secara bertahap mengalami peningkatan jumlah. Penumpang trem terbagi dalam 3 jenis dan kelas :
1. Penumpang umum, terdiri dari kelas 1 dan 2
2. Penumpang abonemen, terdiri dari kelas 1 dan 2
3. Penumpang abonemen anak sekolah, terdiri dari kelas 1 dan 2

Penumpang abonemen diberikan pada pekerja/pegawai atau anak sekolah yang secara rutin menggunakan trem listrik. Penurunan penumpang abonemen mencapai titik puncak pada tahun 1935, ketika terjadi krisis di Hindia Belanda. Saat itu, penumpang abonemen klas 1 yang tahun 1932 berjumlah 347 menurun tajam menjadi menjadi 61 di tahun 1935. Di samping makin banyaknya taksi yang beroperasi, juga mahalnya tiket di klas 1, 5 cent sedang di klas 2 hanya 3 cent. Akibatnya penumpang lebih banyak yang memadati klas 2 karena lebih murah. Penduduk pribumi juga banyak yang memanfaatkan trem listrik sebagai sarana transportasi dalam kota. Kepadatan penumpang pada setiap sub terminal/halte yang ada dapat dilihat pada tabel yang ada.

Semua pendapatan dan pengeluaran OJS, dibukukan dalam buku kas. Setiap akhir tahun OJS membuat laporan tahunan yang mencatat keuntungan atau kerugian yang diperoleh OJS dalam kurun waktu satu tahun. Laporan ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
Jakarta
Alat transportasi bernama trem mulai diperkenalkan di Batavia pada 1869. Trem pada masa itu ditarik oleh kuda. Meski “mesin penggeraknya” kuda, tapi jarak tempuhnya lumayan panjang, dari Kwitang ke Pasar Ikan. Lambat laun posisi trem kuda digantikan dengan trem bermesin uap pada 1881. Ketel uap yang ditempatkan dalam kaleng besar menjalankan lokomotif trem.
Karena menggunakan uap maka jarak tempuh trem ini lebih jauh, dari Pasar Ikan ke Gajah Mada hingga Harmoni, berlanjut ke Kramat melalui Pasar Baru dan lapangan Banteng, kemudian ke Meester Cornelis (Jatinegara) melewati Salemba dan Matraman.
Sekitar 20 tahun kemudian atau tahun 1901 trem listrik mulai diperkenalkan. Meski demikian, trem upa tetap beroperasi. Trem uap akhirnya berhenti beroperasi pada 1933 karena semua trem sudah menggunakan listrik.
Trem listrik berakhir pada tahun 1960 di masa Wali Kota Sudiro.Ketika trem hendak digusur, Sudiro memohon pada Presiden Soekarno agar jaringan trem dari Jatinegara – Senen tetap dipertahankan. Tapi Bung Karno, Presiden RI pertama, menolak dan menganggap trem tidak cocok untuk kota semacam Jakarta. Dia lebih setuju dibangun metro atau kereta api bawah tanah.
Surabaya
Pada tahun 1886, Oost Java Stoomtram Maatschappij mendapat ijin untuk membuka jalur Ujung - Kramatgantung - Wonokromo - Krian - Sepanjang, kemudian dilanjutkan ke Mojokerto - Ngoro. Trem uap membawa banyak masalah seperti kemacetan, polusi, dan lain-lain. OJS kemudian mengajukan diri untuk membangun kembali jalur trem listrik di Surabaya. Pada tahun 1910, OJS mendapatkan ijin mengelola trem listrik di kota Surabaya dan sekitarnya.

Jaringan rel listrik ini membuka jalur :
1. Wonokromo - Willemsplein
2. Goebeng Boelevard - Simpangsplein - Palmlaan - Willemsplein
3. Stasiun Goebeng SS - Sawahan
4. Willemsplein - Pelabuhan Baru


Pemerintah Hindia Belanda juga menerapkan segala ketentuan dan kebijakan untuk pelaksanaan trem di kota-kota termasuk Surabaya. Ada berbagai ketentuan yang harus diikuti oleh OJS dalam mengelola trem, seperti : tempat lokomotif, tempat motor penggerak, tugas masinis, bagaimana jika trem akan berhenti, bagaimana jika terjadi krash dengan trem lain, berapa tarif, dan lain-lain. (Staatsblad tahun 1928, No. 20). Di sisi lain ada ketentuan yang berbeda untuk trem yang melintas di pedesaan (Staatsblad tahun 1928 No. 202).

Dalam rangka pembebasan tanah untuk membangun jalur trem yang baru, OJS bekerja sama dengan Department van Gouvernement Bedrijven. Mereka membeli tanah-tanah milik warga yang dilalui oleh proyek pembangunan jalur baru. dan sebagai imbalan, para pemilik tanah tersebut mendapatkan ganti rugi atas tanah yang digunakan untuk proyek trem listrik dengan sejumlah uang.

Untuk menggerakkan trem listrik yang dikelola, OJS bekerja sama dengan Algemeene Nederlands Indisch Electrisch Maatschappij (ANIEM) Surabaya dengan cara menyewa. Setiap bulan, OJS harus membayar dengan sejumlah uang.

Pada tanggal 15 Mei 1923, trem listrik dioperasikan. Sayangnya, pada hari pertama tidak semua jalur dioperasikan secara bersamaan. Ada beberapa jalur yang ditawarkan:
1. Wonokromo - Palmlaan - Willemsplein
2. Goebeng Boelevard - Simpang Willemsplein
3. Tunjungan - Sawahan - Stasiun Goebeng SS
4. Alon-alon Willemsplein - Hereenstraat - Jalan Gresik - Tanjoeng Perak

Pada tanggal 11 Februari 1924, barulah seluruh jalur trem listrik di Surabaya dioperasikan. Penumpang trem listrik pernah mengalami pasang surut. Tetapi pada perkembanganya, secara bertahap mengalami peningkatan jumlah. Penumpang trem terbagi dalam 3 jenis dan kelas :
1. Penumpang umum, terdiri dari kelas 1 dan 2
2. Penumpang abonemen, terdiri dari kelas 1 dan 2
3. Penumpang abonemen anak sekolah, terdiri dari kelas 1 dan 2

Penumpang abonemen diberikan pada pekerja/pegawai atau anak sekolah yang secara rutin menggunakan trem listrik. Penurunan penumpang abonemen mencapai titik puncak pada tahun 1935, ketika terjadi krisis di Hindia Belanda. Saat itu, penumpang abonemen klas 1 yang tahun 1932 berjumlah 347 menurun tajam menjadi menjadi 61 di tahun 1935. Di samping makin banyaknya taksi yang beroperasi, juga mahalnya tiket di klas 1, 5 cent sedang di klas 2 hanya 3 cent. Akibatnya penumpang lebih banyak yang memadati klas 2 karena lebih murah. Penduduk pribumi juga banyak yang memanfaatkan trem listrik sebagai sarana transportasi dalam kota. Kepadatan penumpang pada setiap sub terminal/halte yang ada dapat dilihat pada tabel yang ada.

Semua pendapatan dan pengeluaran OJS, dibukukan dalam buku kas. Setiap akhir tahun OJS membuat laporan tahunan yang mencatat keuntungan atau kerugian yang diperoleh OJS dalam kurun waktu satu tahun. Laporan ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

0 komentar:

Posting Komentar